Pengikut

Selasa, 18 Desember 2012

Mengapa harus belajar PPD?


Mengapa Harus Belajar Perkembangan Peserta Didik
Oleh Lucy Dewan Yuliyanto NIM 1100744
Department of Mathematics Education, FPMIPA UPI

M
engapa harus belajar perkembangan peserta didik? Perkembangan peserta didik merupakan salah satu kajian mengenai pertumbuhan dan perkembangan peserta didik, sebagai calon pendidik perlu mempelajari perkembangan peserta didik sehingga dapat memperoleh ekspektasi nyata tentang anak dan remaja, calon pendidik lebih mengetahui psikologi perkembangan anak sehingga kita mampu mengatasi permasalahan anak, mampu mengenali penyimpangan yang terjadi pada perkembangan anak serta tujuan utamanya adalah mampu memahami diri sendiri.
            Untuk mempelajari suatu kajian pendidikan perlu dilandasi suatu landasan yang kuat, oleh karena itu kita mempelajari Landasan Psikologis Pendidikan yakni suatu ilmu yang mempelajari penerapan dasar dan metode dan pendekatan psikologis untuk memahami dan memecahkan masalah dalam pendidikan. Fokus untaka dalam landasan ini adalah interaksi antara pendidik dengan peserta didik. Pendidik atau biasa disebut guru merupakan orang dewasa yang telah mempersiapkan diri dan menjalankan tugas sebagai pendidik, pembimbing, pengajar dan pelatih siswa. Sedangkan siswa adalah anak atau remaha yang sedang belajar, sedang mengikuti dan menyesuaikan diri dengan segala aktivitas dan tuntutan yang dibuat oleh guru. Guru merupakan suatu profesi khusus yang memerlukan keahlian khusus sebagai guru dan tidak dapat dilakukan oleh sebarang orang, maka perlu diadanya profesionalisme guru. Perlu ada kompetensi profesional untuk seorang guru, seperangkat kemampuan yang harus dimiliki seorang guru untuk melaksanakan tugas mengajarnya dengan berhasil, antara lain
1. Kompetensi Profesional, memiliki pengetahuan yang mendalam terhadap materi
2. Kompetensi Personal, memiliki kepribadian serta integritas tinggi
3. Kompetensi Pedagogik, mampu mendidik dan berperan sebagai pengelola proses KBM
4. kompetensi Sosial, kemampuan berorganisasi dengan peserta didik dan lingkungan
            Dalam proses belajar mengajar, kita dapat melihat perbedaan karakteristik peserta didik. Hal ini berkaitan dengan konsep perilaku individu, menurut Notoatmodjo (2003) Perilaku adalah tindakan atau aktivitas dari manusia itu sendiri yang mempunyai bentangan yang sangat luas antara lain : berjalan, berbicara, menangis, tertawa, bekerja, kuliah, menulis, membaca, dan sebagainya. Dari uraian ini dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud perilaku manusia adalah semua kegiatan atau aktivitas manusia, baik yang diamati langsung, maupun yang tidak dapat diamati oleh pihak luar.
            Peran pendidikan bagi perilaku individu ialah mengembangkan kompetensi individu serta meningkatkan produktivitas masyarakat. Sebab pendidikan khususnya di lingkungan sekolah merupakan salah satu agen sosialisasi peserta didik. Perkembangan peserta didik merupakan serangkaian perubahan progresif yang terjadi sebagai akibat dari proses kematangan dan pengalaman. Terdapat enam prinsip perkembangan, antara lain :
1. Unstoppable Process
2. Semua aspek saling mempengaruhi
3. Perkembangan mengikuti pola tertentu
4. Perkembangan terjadi pada tempo yang berbeda
5. Unique Phase
6. Setiap individu normal mengalami fase perkembangan
            Dalam menjalani fase perkembangan mulai masa pranatal hingga fase orang tua, setiap individu harus melakukan tugas perkembangan. Menurut Robert J. Havighurst, tugas perkembangan adalah sebagian tugas yang muncul pada suatu periode tertentu dalam kehidupan individu, yang merupakan keberhasilan serta memberi jalan bagi tugas-tugas berikutnya. Setiap fase perkembangan memiliki ciri khas tugas perkembangan tersendiri. Menurut Havighurst setiap tahap perkembangan individu harus sejalan dengan perkembangan emosi, moral dan sosial.
            Perkembangan emosional individu, Menurut Crow & crow (1958) (dalam Sunarto, 2002:149) emosi adalah “An emotion, is an affective experience that accompanies generalized inner adjustment and mental physiological stirred up states in the individual, and that shows it self In hi sovert behavior.” Perkembangan emosi diharapkan individu mampu mengontrol emosi yang diungkapan, sehingga mampu menghadapi situasi dengan rasional dan belajar mengenal diri sendiri.
            Dilihat dari perkembangan sosial, perkembangan kemampuan individu berperilaku sesuai dengan tuntuan sosial sehingga terjadi proses sosialisasi dan penyesuaian diri. Karakteristik dari perkembangan sosial ialah meniru, rasa malu, perilaku kerekatan, ketergantungan, kerja sama dll. Pada perkembangan moral individu, moral merupakan ajaran tentang baik buruk perbuatan. Perkembangan kemampuan untuk membedakan kegiatan benar salah dengan moral sebagai kendali tingkah laku.
            Menurut Kolhberg, perkembangan moral terdiri atas 3 tahap yakni
1. Tingkat Prakonvensional: Orientasi hukuman dan orientasi tujuan atau relativis
2. Tingkat Konvensional: Orientasi kesepakatan pribadi dan orientasi hukum ketertiban
3. Tingkat Pascakonvensional : Orientasii kontrak sosial dan orientasi prinsip etika universal
     Pada umumnya kajian perkembangan peserta didik berkaitan erat dengan perkembangan anak dan remaja. Remaja didefinisikan sebagai masa peralihan antara masa anak dan masa dewasa. Secara etimologi, remaja dapat di defenisikan sebagai periode perkembangan seseorang mulai dari puncak pubertas sampai kepada status dewasa. Selama periode ini seseorang akan mengalami perkembangan fisik yang cepat, psikologi, emosional dan perubahan kepribadian.
Thornburgh membagi usia remaja menjadi tiga kelompok, yaitu:
1.        Remaja awal : antara 11 hingga 13 tahun
2.        Remaja pertengahan: antara 14 hingga 16 tahun
3.        Remaja akhir: antara 17 hingga 19 tahun.
Pada usia tersebut, tugas-tugas perkembangan yang harus dipenuhi adalah sebagai berikut:
1.        Mencapai hubungan yang baru dan lebih masak dengan teman sebaya baik sesama jenis maupun lawan jenis
2.        Mencapai peran sosial maskulin dan feminin
3.        Menerima keadaan fisik dan dapat mempergunakannya secara efektif
4.        Mencapai kemandirian secara emosional dari orangtua dan orang dewasa lainnya
5.        Mencapai kepastian untuk mandiri secara ekonomi
6.        Memilih pekerjaan dan mempersiapkan diri untuk bekerja
7.        Mempersiapkan diri untuk memasuki perkawinan dan kehidupan keluarga
8.        Mengembangkan kemampuan dan konsep-konsep intelektual untuk tercapainya kompetensi sebagai warga negara
9.        Menginginkan dan mencapai perilaku yang dapat dipertanggungjawabkan secara sosial
10.    Memperoleh rangkaian sistem nilai dan etika sebagai pedoman perilaku (Havighurst dalam Hurlock, 1973).
Pada masa remaja, perkembangan koginitif dan intelektual berkembang pesat. Dalam setiap peserta didik, terdapat atribut-atribut psikologis yang dapat mempengaruhi proses pembelajaran, diantaranya kecerdasan, kemampuan intelektual seorang individu, menurut Gardner terdapat 8 macam kecerdasan yakni kecerdasan linguistik, logika matematika, spasial, kinestetik-jasmani, musikal, interpersonal, intrapersonal dan naturalis.
Atribut lainnya adalah minat dan bakat. Minat diartikan sebagai kehendak, keinginan atau kesukaan (Kamisa, 1997:370). Sumber motivasi yang mendorong orang untuk melakukan apa yang mereka inginkan bila mereka bebas memilih (Hurlock, 1995 :144). Sedangkan bakat, menurut William B. Michael (Sumadi Suryabrata, 1991:168) bakat diartikan sebagai berikut.
“An aptitude may be defined as a person’s capacity, or nypothetical, for acquisition of a certain more or less well defined pattern or behavior involved in the performance of a task respect to which the individual has llad little or no previous training.”. Jadi dapat diartikan bakat merupakan sebuah potensi yang dimiliki oleh seorang individu. Dengan memanfaatkan bakat serta minat akan meningkat produktivitas dan kompetensi individu. 
Atribut motivasi sangat mempengaruhi perkembangan peserta didik dalam prestasi belajar, menurut KBBI motivasi adalah usaha yang dapat menyebabkan seseorang atau kelompok orang tertentu tergerak melakukan sesuatu karena ingin mencapai tujuan yang dikehendakinya atau mendapat kepuasan dengan perbuatannya. Dengan adanya pendorong untuk melakukan kegiatan belajar, peserta didik mampu memberikan prestasi yang lebih baik. Dan beberapa atribut psikologis peserta didik yang harus dipahami oleh calon pendidik. Untuk itulah kajian Perkembangan Peserta didik sangat diperlukan bagi calon pendidik untuk memahami diri sendiri dan peserta didiknya.

References
Alzahari et al. (2012). “Konsep perilaku individu”. [makalah]
Hardumek, Rosi et al. (2012). “Perkembangan Sosial moral individu”. [Makalah]
Hartinah, Sitti. (2008). Pengembangan Peserta Didik. Tegal : Refika Aditama
Hidayat, A. Majid et al. (2012). “Konsep Perkembangan Individu”. [Makalah]
Hidayat, Azhar Majid et al. (2012). “Analisis perkembangan remaja”. [Makalah]
Nugraha, Angga Taufik et al. (2012). “Proses perkembangan emosi, kepribadian, penghatan keagamaan”. [Makalah]
Nurjannah, Marjan et al. (2012). “Atribut Psikologis dalam Pembelajaran siswa (motivasi, persepsi, sikap dan kebiasaan)”. [Makalah]
Sugandi, Nani M. Dan Syamsu Yusuf L.N. (2012). Perkembangan Peserta Didik. Jakarta : PT Rajagrafindo Persada
Syaodih, Nana dan Mulyani Sumantri. (2009). Perkembangan Peserta Didik. Jakarta : Universitas Terbuka
Wahyudi, Ogi et al. (2012). “Wawasan Landasan psikologis pendidikan dan profesi kependidikan.” [makalah]
Yuliyanto, Lucy Dewan et al. (2012). “Perkembangan Sosial dan Moral Individu”. [Makalah]

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar